Jawa Pos  |  29 September 2003

PASAR BARU – Karena salah satu ujungnya digantung di langit-langit, lima lembar kain putih terjuntai ke lantai. Dari balik salah satu lembar kain itu terlihat sesosok bayangan yang meliuk-liuk mengikuti irama musik.

Tangannya seolah-olah ingin menggapai keluar dari balik tirai. Tiba-tiba saja, bayangan di balik kain tersebut memunculkan dirinya di depan tirai. Dia seolah ingin memberitahukan wujud aslinya. Begitulah adegan awal pertunjukan tari karya koreografer Belanda, Gerard Mosterd, Sabtu malam lalu. Berdurasi satu jam, tari bertema Please Let Me See Your Face ini digelar di Gedung Kesenian Jakarta. “Dalam tarian itu, saya ingin mengungkapkan penyelubungan dalam diri manusia,” jelas Gerard.

Selanjutnya, dia mengatakan topeng merupakan simbol yang mewakili nilai luhur tradisi dan ritual. Dalam pementasannya kali ini, Gerard dibantu dua penari; Jerôme Myer dan Wendel Spier. Keduanya didaulat membawakan koreografi terbaru Gerard tersebut. Tapi, mengapa topeng yang ingin ditonjolkan?

Ditanya demikian, Gerard mengatakan, ini karena banyak orang yang tidak bisa menjadi dirinya sendiri. “Mereka lebih suka menyembunyikan identitas pribadi,” tukasnya.  Lebih dari itu, Gerard menegaskan, pertunjukan ini memadukan dua kutub budaya yang berbeda. “Barat dan timur, tradisional dan modern, semuanya disatukan dalam sebuah tarian.”

Diiringi musik yang ditata Paul Goodman, Gerard menyelipkan beberapa alunan gending-gending Jawa yang dimainkan Renadi Santoso. “Gending itu untuk mewakili tradisi Timur. Unsur tradisional di dalam tarian ini memang perlu ditonjolkan juga,” jelasnya. Lebih menarik lagi, Paul menyelipkan alunan musik keroncong dalam komposisi musiknya.

Selebihnya, tradisi timur yang diangkat Gerard bisa dilihat dari beberapa gerakan tariannya. Seperti gerarak tari kecak dari Bali. Yang tidak terduga, penari Jerome dan Wendel ternyata memiliki darah campuran Jawa dan Belanda. “Jadi karya yang saya ciptakan kali ini memang memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri,” ujar Gerard.

Rencananya, koreografer yang pernah mementaskan Luminescent Twilight di Indonesia ini, juga akan menampilkan karya-karyanya di lima kota lain. Yaitu di Bandung (3-4/10), Solo (7/10), Surabaya (12/10), Jogjakarta (15/10), dan Denpasar (21/10). (dhe)

0 antwoorden

Plaats een Reactie

Meepraten?
Draag gerust bij!

Geef een antwoord

Het e-mailadres wordt niet gepubliceerd. Vereiste velden zijn gemarkeerd met *