Koran Tempo  |  1 October 2003

[Foto Lourentius EP]

“Bagi masyarakat Barat, burqa merupakan simbol topeng yang mereka kenakan.” kata Gerard Mosterd, koreografer asal Belanda 

JAKARTA – Perempuan di balik tirai. la. tersembunyi di dalam dunianya. Di sana ia tampak samar. Menunduk, bergulingan, meregang…, semuanya senilai bayang-bayang. Mungkin ia bosan ketika ia memutuskan menarik tirai itu tiba tiba dan terjatuh ke lantai. Namun, perempuan itu tak lantas terlihat jelas. la berpindah ke tirai lain dan bermain sebagai bayang-bayang di baliknya.

Ada empat tirai yang tergantung di panggung. Total semuanya lima, minus satu yang ditarik lepas oleh perempuan itu. Jika diurutkan dari kiri ke kanan, tirai pertama-tempat perempuan itu berada-ada di paling kiri. Menjorok sedikit ke belakang, terletak tirai dua, lantas tirai tiga yang sejajar dengan tirai dua, dan tirai empat berada paling kanan maju ke depan, hampir sejajar dengan tirai pertama.

Di empat tirai itulah Wendel Spier dan Jerume Myer mengolah gerak dalam nomor tari Please Let Me See Your Face karya Gerard Mosterd, koreografer asal Belanda. Inilah penampilan kedua karya Mosterd di Indonesia setelah tahun lalu menampilkan Luminescent Twilight.

Kali ini, karyanya direncanakan mampir di enam kota. Di Jakarta, koreografi ini tampil di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu (27/9) dan Erasmus Huis, Selasa (30/9). Dilanjutkan di Selasar Sunaryo Bandung (3-4 Oktober), di Studio Sono Seni Solo (7/10), Balai Pemuda Surabaya (12 Oktober), Taman Budaya Yogyakarta (15/10), dan Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Denpasar (21/10).

Durasi koreografi ini 50 menit dan dimainkan sepasang lelaki dan perempuan untuk menggambarkan tema sepasang kekasih atau suami istri. “Aku terinspirasi oleh perkawinan orangtuaku,” kata Gerard Mosterd. Lulusan sekolah tari Royal Conservatory di Den Haag ini lahir dari ayah Belanda dan ibu Indonesia. Pernikahan beda bangsa itu, menurut dia tidak mungkin tidak menerbitkan konflik.

Dalam konflik itulah ia menyusun rangkaian gerak. Sebagai bagian dari konsepnya, ia senIgaja memilih Wendel Spier, perempuan asal Indonesia yang berkebangsaan Belanda, dan Jerume Myer, lelaki asal Swiss yang juga tinggal di Belanda. Percampuran kultur di antara penarinya inilah yang dipercaya Mosterd tak hanya tampil secara lahiriah tapi secara bawah sadar turut mempengaruhi bentuk gerak mereka.

Dalam pandangannya, konflik pernikahan beda kultur cenderung mendorong seseorang untuk menyelubungi karakter aslinya. Hal ini didorong munculnya semacam mekanisme kontrol untuk bersikap kompromis secara otomatis. Hal ini diperlihatkan Mosterd dengan menyusun “permainan gerak” sekitar 15 menit.

Permainan gerak itu menyerupai petak umpet. Baik Spier dan Myer terus menjaga jarak, tidak pernah bersentuhan. Mereka keluar-masuk panggung secara bergantian. Khusus untuk Spier, ia paling banyak mengeksplorasi tirai, baik dengan menampilkan siluet tubuhnya maupun menempelkannya ke kain. Untuk gerakan, terdapat dua perbedaan mendasar. Spier cenderung bergerak lebih lambat dengan menekankan pada liatan-liatan tubuh yang memberikan efek inner. Sementara itu, Myer bergerak lebih dinamis dan bervariasi.

“Di bagian inilah aku memperlihatkan bagaimana sebuah pasangan menemukan siapa dirimu sebenarnya,” kata Mosterd yang tidak mempercayai adanya improvisasi dalam tarian. la cenderung detail dalam menciptakan koreografi.

Setelah hampir seperempat bagian terpisah, keduanya menyatu di tengah panggung begitu musik menampilkan suara suling. Soal musik, Mosterd mempercayakannya kepada Paul Goodman yang banyak mengolah bunyi yang di dalamnya bercampur dengan instrumen gamelan yang dimainkan Renadi Santoso. Di pojok kanan panggung, Renadi memainkan gong dan sebilah gambang dengan cara eksperimentatif. Misalnya menggesekkan sebatang kayu di permukaan gong.

Bagian duet ini terbagi dua bentuk. Pertama, berduet dengan mengeksplorasi tirai dan kedua, tanpa tirai yang bertempat di tengah panggung. Dalam salah satu bagian, duet tanpa tirai diiringi musik keroncongsatu hal yang juga dilakukannya di nomor Luminescent Twilight. Di bagian ini, gerakan mereka sama persis dan bersifat ke “bawah”, yaitu jenis jenis gerakan yang berpusat di lantai.

Penggunaan tirai sendiri menjadi elemen yang tak hanya kuat dalam hal artistik tapi juga metaforik. ‘Tirai itu menggambarkan burqa,” kata Mosterd. Burqa adalah kostum yang lazim dikenakan perempuan Timur Tengah. Di sinilah Mosterd menampilkan perluasan konflik kultur yang tak hanya berlaku di tingkat domestik.

Menurutnya, burqa merupakan simbol yang tepat untuk menampilkan perbedaan pandangan kultur antara Barat dan Timur. “Bagi masyarakat Barat, burqa merupakan simbol topeng yang mereka kenakan. Padahal, topeng itu juga dikenakan di balik wajah Bush atau masyarakat Barat lainnya di tengah konflik politik saat ini,” ujarnya. Baginya, karya ini tak hanya menyatakan pengalaman pribadinya tapi juga pernyataan politiknya.

Gerard bukanlah orang yang menyetujui terjadinya perang, namun baginya konflik tetap memberikan nilai positif dalam sebuah hubungan beda kultur. Meski tidak setuju dinilai pesimistis, konflik merupakan konsekuensi logis ketika seseorang menyatakan siapa dirinya. Demikian pula yang terjadi dalam pernikahan orangtuanya yang kini berakhir dengan perceraian, “Meski mereka masih berteman sampai sekarang,” katanya sambil tersenyum.

Memang, secara keseluruhan, permainan simbol dan gerakan yang disusunnya dalam gerakan ini terkesan abstrak dan mungkin hanya akan terjawab ketika penonton berdialog dengan penciptanya. Namun, dengan kerapian penempatan gerak, arlistik panggung dan musik yang dirancangnya mendetail, karyanya ini tetap memberikan kebebasan interpretasi dan imajinasi bagi penonton.

• f dewi ria utari

0 antwoorden

Plaats een Reactie

Meepraten?
Draag gerust bij!

Geef een reactie

Het e-mailadres wordt niet gepubliceerd. Vereiste velden zijn gemarkeerd met *