Selasar Sunaryo Art Space  |  3 October 2003

Aku ingin mengenalmu, tapi tak bisa kulihat siapa dirimu
Hapus tata rias dan senyum di wajahmu
Aku memerlukan ketelanjanganmu untuk dapat memahami
Melalui setiap tarikan napas di kulit wajahmu

Gerard Mosterd, 2003

PEMENTASAN Tari Let Me See Your Face karya koreografer asal Belanda, Gerard Mosterd yang akan berlangsung di Selasar Sunaryo Art Space tanggal 3-4 Oktober 2003 bisa dipandang sebagai refleksi dari situasi kegamangan identitas budaya di tengah situasi dan kondisi global dewasa ini. Melalui karyanya, Mosterd menggabungkan dua karakter budaya yang semula dilihat sebagai pasangan yang berlawanan; kebaratan dan ketimuran; antara yang oksidental dan yang oriental.

Let Me See Your Face banyak diilhami oleh pertanyaan yang filosofis tentang identitas “siapakah aku?”, “dari mana aku berasal?”, kemanakah aku harus berkiblat?”. Bukan secara kebetulan, Gerard Mosterd adalah seniman yang telah cukup lama berkutat dengan pertanyaan seputar eksistensinya sebagai seseorang dengan ras hybrid (campuran). Mosterd memang lahir dari ayah yang berkebangsaan Belanda dan ibu berkebangsaan Indonesia.  Latar belakang studi tarinya di Eropa dan eksplorasi yang intens terhadap berbagai genre tari di Asia — khususnya Indonesia — pada akhirnya melatarbelakangi lahirnya karya-karya yang tidak saja inovatif, namun memancing diskusi budaya yang menarik.

Pendidikan formal penari dan koreografer kelahiran Amersfoort tahun 1969 ini didapatkan dari Dansvakopleiding van het Koninklijk Conservatorium di Den Haag, Belanda. Setelah lulus, untuk memperluas pengalaman dan spesialisasi di bidang tari balet, ia bekerja dengan London Festival Ballet, Inggris; Concordance di Paris, Prancis dan Basle Ballet. Sebagai penari, ia pernah membawakan karya-karya koreografer Eropa terkemuka, diantaranya Jiri Kylian, Hans van Manen, Christopher Bruce, Siobhan Davis, dan Maurice Bejart. Pertanyaan seputar identitas dirinya mulai ia temukan ketika ia mulai bekerja dengan The Royal Ballet of Flanders untuk berpentas keliling Eropa dan Cina, juga setelah bekerja dengan Hwa Kang Dance Company di Taipei. Karakter tarian timur yang baginya eksotik, ditambah lagi dengan takdirnya sebagai seorang keturunan Asia banyak membawa pengaruh dan inspirasi yang tak berkesudahan bagi karya-karyanya.

Sejak 1998, Mosterd banyak menciptakan karya-karya tari yang dikembangkan dari latar belakang studi tarinya di Eropa dan ziarah budayanya di daerah-daerah di Indonesia yang dahulu pernah menjadi koloni Belanda. Metode risetnya ini tentu saja menjadi sangat khas dan menarik karena di situ ia juga berusaha mencari keterkaitan antara kultur yang dibawa oleh para penjajah dan pengaruhnya terhadap kebudayaan tradisional setempat. Cara tersebut ia lakukan demi penghayatannya terhadap dua silsilah kultur nenek moyangnya.

Memang, dari berbagai sudut pandang, karakter tarian Timur dan Barat umumnya sering dilihat sebagai dua hal yang bertolak belakang. Namun, menyimak karya-karya Mosterd, tampaklah bahwa hasil dari risetnya yang serius adalah tarian yang mewakili percakapan dua budaya. Dalam karya-karya Mosterd, tidak satu pun dari dua karakter tersebut saling mendominasi atau menegaskan satu sama lain. Keduanya mewujud menjadi sebuah persenyawaan yang harmonis dan saling mengisi. Untuk strudinya tersebut, ia sempat tinggal selama beberapa bulan di Indonesia dan bekerja sama dengan musisi dan koreografer lokal seperti Gugum Gumbira dan Sardono W. Kusumo.

Beberapa karya Mosterd yang pernah dikelilingkan di Eropa antara lain Mental Mechanics into Dripping Senses (1996), Mara (1998), Ketuk Tilu dan Game (1999), Angin dan Soup of The Day (2000), Demam(2001), Luminescent Twilight, serta Tuin (2002). Ketuk Tilu yang menggabungkan jaipongan dan balet dan dipentaskan di Den Haag tahun 1999 menjadi salah satu karya yang paling banyak diperbincangkan para kritikus. Selain karena aspek hibriditasnya, karya Mosterd juga menonjol karena keseriusannya dalam menggarap gerak tubuh, tata artistik panggung, pencahayaan dan musik. Sering ia juga menghadirkan musik-musik etnik/tradisional dan elektronik, sekaligus bahkan keroncong dengan harmonisasi yang apik. Dalam karya Luminescent Twilight yang sempat dipentaskan keliling Indonesia, Mosterd menggabungkan tata pentas wayang kulit — melalui penggunaan layar atau kelir dengan estetika tarian Eropa klasik.

Let Me See Your Face merupakan karya Mosterd yang mencerminkan pencapaian eksplorasinya yang paling akhir dari pertanyaan-pertanyaan seputar identitas dirinya. Kali ini ia menggunakan topeng sebagai metafor tentang selubung identitas yang menurutnya harus ditelanjangi meskipun ketelanjangan belum tentu menampakkan sebuah esensi. Dalam pementasannya di Bandung kali ini ia akan dibantu oleh Wendel Spier dan Jerome Myer sebagai penari, Paul Goodman sebagai komposer dan musisi elektronik serta pemain gamelan Renadi Santoso.

Karya-karya Mosterd bukanlah tipikal tarian ciptaan koreografer yang semata-mata terpesona pada eksotika ketimuran, namun lebih jauh lahir melalui penghayatnan yang sempurna. Mosterd memang tidak pernah merasa dirinya sepenuhnya Barat ataupun Timur. Ia bahkan makan nasi dan kentang bergantian dan merasa selalu hidup di antara gesekan dua kulturnya tersebut. Tampaknya, ini menjadi salah satu karakter yang akan mewarnai khazanah budaya global dewasa ini, ketika kolonialisasi dan migrasi membawa dampak lahirnya generasi (ras) hibrid.

(Agung Hujatnikajennong)***

0 antwoorden

Plaats een Reactie

Meepraten?
Draag gerust bij!

Geef een antwoord

Het e-mailadres wordt niet gepubliceerd. Vereiste velden zijn gemarkeerd met *