Kompas  |  5 October 2003

Please Let Me See Your Face! Itu judul tari yang dipilih Gerard Mosterd untuk karya yang dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta 27 September dan di Erasmus Huis Jakarta, 30 September lalu. Garapan koreografer kelahiran Amersfoort, Belanda, berdarah blasteran Belanda -Indonesia itu mengungkapkan persoalan seputar hubungan antar manusia dengan latar belakang kultural yang berbeda. Ada semacam sekat, atau topeng, yang membatasi komunikasi antar mereka.

Suasana terpisah, atmosfer keterasingan, tetapi juga keinginan dua manusia untuk saling menyentuh itu dibangun lewat gerak, tata cahaya, dan desain panggung yang penuh tirai penyekat. Di panggung terpasang lima helai kain putih transparan yang menjuntai dari atas hingga lantai pentas. Kain atau tirai itu dipasang di lima sudut terpisah, masing-masing di sudut kanan dan kiri belakang panggung. Dua tirai lain dalam posisi hampir sama di pasang di depan dua tirai tadi.  Satu tirai lagi terpasang di sudut kanan agak ke depan pentas.

Rindu Wajah – Pementasan tari Please Let Me See Your Face karya Gerard Mosterd mengangkat problem pelik komunikasi antar manusia

Di balik layar sebelah kanan belakang panggung seorang penari pria dengan kostum ketat warna putih menunjukkan gerak seperti menggelepar, menggapai- gapai layar, melompat-lompat dengan gerakan eksplosif. Dia tampak takut- takut untuk keluar dari tirai. Cahaya difokuskan pada tirai sang penari, sementara bagian panggung lain tampak gelap.

Sesaat kemudian gerakan lelaki itu berhenti seturut cahaya yang meredup. Cahaya beralih ke tirai sebelah kiri belakang panggung. Di balik tirai terlihat perempuan bergerak-gerak cepat, seperti meronta, belingsatan, memberontak. Tangannya kemudian menarik kain tipis hingga tirai itu jatuh, luruh ke lantai.

Pada bagian selanjutnya keduanya masing-masing keluar dari balik tirai. Mereka menggeliat-geliat di ruang-ruang terpisah. Gerak tubuh mereka seperti melepaskan tenaga resah. Keduanya seperti hidup di alam terpisah, satu ruang tapi tidak saling menyentuh. Mereka ingin menjebol dan lepas dari sekat tirai.

Suasana pentas terasa seperti alam mimpi yang serba asing. Terdengar bunyi seperti getaran mesin yang sering terdengar dalam fiksi-fiksi ilmiah (sci-fi) yang sedang menggambarkan planet misterius. Cahaya di panggung antara gelap dan remang-remang. Dalam suasana alam asing dan terkesan tegang itu dua sosok menggeliat, menggelepar, meronta. Mereka tidak pernah bersentuhan satu sama lain. Mereka keluar masuk menyelusupi tirai atau berlarian di antara sekat-sekat kain itu.

Suasana serba tegang, temaram, dan asing itu dibiarkan hingga sekitar 20 menit. Dalam sekitar 20 menit berikutnya atmosfer pelan-pelan berubah. Dua sosok penari itu muali saling berdekatan lalu menyentuh. Pada awalnya mereka masih saling intip di sekitar tirai. Kemudian mereka bersentuhan, berlompatan, berguling-guling, dan bergumul.

Cahaya pelan-pelan menerang terdengar musik yang mengingatkan bunyi gamelan. Ketika cahaya makin terang, mengalunlah musik keroncong, lengkap dengan vokal dan lirik bahasa Indonesia. Rasa tegang seperti telah di lepas dan terasa atmosfer serba lega. Saat itu, dua sosok tersebut telah akrab, saling menyentuh, bersahabat, dan seperti bercanda.

Karya Gerard Mosterd, Please Let Me See Your Face, yang berdurasi sekitar 45 menit ini masih beranjak dari titik persoalan seputar jati diri dan hubungan antarmanusia dari latar belakang berbeda. Tema hampir serupa pernah digarap Mosterd dalam Luminescent Twilight, yang dipentaskan di Jakarta September tahun lalu. Dua karya tersebut menggunakan tirai atau layar sebagai medium untuk menyampaikan gambaran keterpisahan.

Layar juga menjadi semacam tirai yang menutupi sosok dari pribadi seseorang. Ada semacam ketegangan, kecurigaan dari dua sosok penari itu saling berdekatan, menyapa, dan bersentuhan meski akhirnya hubungan mereka cair.

Kegamangan eksistensi Mosterd yang blasteran itu juga masih mewarnai karya ini. Mosterd yang berayah dan beribu dari Jawa Timur yang dibesarkan di Sumatera Utara itu pernah belajar balet klasik di Royal Conservatory, Den Haag. Namun, dia juga akrab dengan komunitas kesenian Gugum Gumbira sampai Sardono W Kusumo.

“Saya ini dibesarkan antara nasi dan kentang. Meski hidup di Barat, ada rasa Indo dalam diri saya,” kata Mosterd dalam wawancara dengan Kompas sebelum pentas Luminescent Twilight tahun lalu.

Titik temu antara Eropa dan Asia itu boleh jadi adalah keroncong. Setidaknya keroncong muncul dalam dua karya Mosterd yang digelar di Jakarta. Tahun lalu, dia memunculkan Keroncong Moritsku. Mosterd memang tak berkesan mencari titik temu atau sintesa gerak Barat-Timur. Tak ada kesan gerak yang cenderung “menjawa” atau sebaliknya. Dia membiarkan dua latar belakang kultural itu berinteraksi secara natural.

Dua penari dalam Please Let Me See Your Face memang berasal dari latar belakang berlainan. Mereka adalah Wendel Spier yang mempunyai orangtua berdarah Jawa tapi tumbuh di Belanda, serta Jerome Myer yang berlatar belakang Swiss-Eropa. Karya ini juga melibatkan pemain gamelan Renadi Santoso yang antara lain memainkan rebab dan saron. Mereka menjadi penerjemah yang baik dari persoalan latar belakang “nasi dan kentang” dari Mosterd. Lewat gerak, Mosterd mencoba memahami hubungan manusia dari sisi nurani, bukan dari sisi kentang atau keju, atau sisi wajah manusia.

Please Let Me See Your Face juga digelar di Selasar Sunaryo Bandung pada 3-4 Oktober. Selain itu, akan digelar juga di Studio Sono Seni, Solo (7/10), Balai Pemuda Surabaya (12/10), Taman Budaya Yogyakarta (15/10), dan Taman Budaya Denpasar Bali (21/10). (XAR)

0 antwoorden

Plaats een Reactie

Meepraten?
Draag gerust bij!

Geef een antwoord

Het e-mailadres wordt niet gepubliceerd. Vereiste velden zijn gemarkeerd met *