Radar Surabaya  |  12 Okt 2003

Gerard Mosterd menularkan ilmunya pada siswa SMU Tri Murti [Foto:RADAR/ABU]

GUBERNUR SURYO-RADAR • Para siswa SMU Tri Murti Surabaya mendapat kesempatan langka. Siang kemarin mereka ditulari ilmu menari oleh Gerard Mosterd dan kawan-kawan. Mosterd adalah koreografer berkebangsaan Belanda, namun beribukan wanita Indonesia.

Pelatihan selama kurang lebih dua jam itu diikuti puluhan siswa Tri Murti. Pada kesempatan itu, Mosterd yang malam ini akan tampil di Balai Pemuda mementaskan tarian Please Let Me See Your Face, mengajari mereka dasar-dasar tarian kontemporer. Mulai dari gerakan dasar, pernapasan, kelenturan tubuh, dan melatih keseimbangan. Para siswa tampak serius mengikuti setiap gerakan yang diperagakan Mosterd, meski tak jarang mereka mengalami kesulitan. “Gerakannya kok aneh gini ya. Di sini nggak ada tarian seperti ini,” cetus seorang siswa.

“Tari kontemporer merupakan penggabungan unsur gerak lemah gemulai dan ritme keras dan cepat. Bisa dibilang penggabungan tari tradisional dan modern,” jelas Mosterd usai memberi pelatihan. Dari kegiatan seperti ini Mosterd berharap bisa memahami setiap kebudayaan di penjuru Indonesia. Selain Surabaya, alumnus Royal Conservatory di Hague Belanda ini pernah menularkan ilmunya di Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Solo, dan Denpasar.

Mosterd memang berupaya memadukan beragam budaya orang lain dengan budayanya sendiri. Upaya mensinergikan dua kebudayaan berbeda seperti itu juga dilakukan kedua orangtuanya. Ayah Mosterd adalah lelaki Belanda asli, sementara ibunya orang Indonesia. “Obsesi saya bisa memadukan budaya timur dan barat. Dengan begitu tak kan ada lagi pertentangan di antara keduanya.”

Tentang siswa Tri Murti yang menjadi `murid’nya kemarin, Mosterd sempat memberikan pujiannya. “Mereka belajar penuh semangat, meski tarian yang saya peragakan terlihat aneh. Bakat-bakat mereka juga bagus, sayang kalau tidak ada yang menyalurkan,” ujarnya.

Menyinggung soal pentasnya malam nanti, Gerald Mosterd berjanji tampil habis-habisan. Ini merupakan penampilan keduanya di Surabaya, setelah tahun lalu dia unjuk gigi di Festival Cak Durasim. Lewat pentas itu dia ingin ‘melihat’ budaya Indonesia dengan mata gamblang, agar bisa mengadopsinya menjadi sebuah ide gerakan tari baru.

Mosterd memang terobsesi melahirkan gerakan tari baru, sebuah gerakan perpaduan antara berbagai budaya yang berbeda. Karena itu dia sangat berharap ada saling keterbukaan antara budaya timur dan barat. Dan, salah satu pihak yang bisa menjembatani perbedaan itu adalah para seniman semacam dirinya. “Seniman memang diharapkan bisa menjembatani perbedaan antarbangsa untuk mencapai pemahaman bersama,” pungkasnya. (zen)

0 antwoorden

Plaats een Reactie

Meepraten?
Draag gerust bij!

Geef een antwoord

Het e-mailadres wordt niet gepubliceerd. Vereiste velden zijn gemarkeerd met *