Koran Tempo  | 12 Juli 2004

INDONESIA DANCE FESTIVAL VII
Inilah kombinasi penampilan para koreografer senior dan yang terbilang masih muda

JAKARTA – Tahun ini, Indonesia Dance Festival kembali hadir. Festival tari internasional dua tahunan ini sudah berlangsung sejak 27 Juni lalu. Namun, program utamanya sendiri akan berlangsung selama tiga hari di Jakarta, dari Rabu (14/7) hingga Sabtu (17/7). Panitia IDF yang tahun ini dikelola oleh Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), menyediakan tiga tempat untuk berlangsungnya festival ini. Taman Ismail Marzuki (TIM), Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), dan Taman Budaya Jawa Timur.

Luminescent Twilight. Karya Gerard Mosterd yang dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta, 2002 [Foto: TEMPO/SWANTI]

Pada 27 Juni lalu, IDF telah menggelar acara yang menjadi bagian dari program festival, yakni sebuah lokakarya koreografi yang berlangsung di Taman Budaya Jawa Timur di Surabaya, hingga 10 Juli. “Dalam lokakarya ini, terkumpul sekitar 25 peserta dari berbagai daerah,” ujar Sukarji Sriman, pengajar IKJ yang juga sekretaris IDF, dalam konferensi pers yang diselenggarakan Rabu (7/7).

Diselenggarakan sejak 1992, tahun ini IDF telah menginjak penyelenggaraan yang ketujuh kalinya. Tema tahun ini “Menatap ke Masa Depan”, yang dianggap mewakili keinginan panitia untuk menjadikan festival ini menjadi ajang untuk mempersiapkan generasi seniman tari selanjutnya. Dipadu dengan misi pendidikan, IDF tahun ini berkeinginan untuk mempertemukan berbagai kelompok penari maupun penata tari dengan orientasi artistik dan latar belakang budaya yang berbeda dari dalam atau luar negeri untuk mempertunjukkan karya pilihannya, berlatih menciptakan karya baru, dan bertukar wawasan.

Untuk itu, IDF tak hanya menekankan pada acara pementasan, tapi juga menambahnya dengan kegiatan-kegiatan yang pada dasarnya ingin mempersiapkan lingkungan tari yang kondusif sebagai unsur utama untuk memacu prestasi kreatif seniman muda.

Sebenarnya program-program yang direncanakan tahun ini tak banyak berbeda dengan IDF sebelumnya. Sejak tahun pertama, selain pertunjukan, IDF juga menyelenggarakan workshop, diskusi, dan showcase. Untuk tahun ini, showcase tetap diselenggarakan dengan istilah yang berbeda, yaitu Emerging Choreographer. Intinya tetap sama, pertunjukan khusus yang menampilkan karya para koreografer muda.

Bertempat di Studio Teater TIM, Emerging Choreographer akan menampilkan karya enam koreografer. Mereka tak hanya berasal dari Indoensia. Ada dua koreografer asing. Mereka adalah Shafirul Azmi bin Suhaimi dari Malaysia dan Aeyani Manring, yang lahir dari pasangan Indonesia dan Amerika yang sejak kecil tinggal di Philadelphia, Amerika. Selain mereka, akan tampil Siko Setyanto (Surakarta), Susi Mariah (Jakarta), dan Mei Lia Nita Sora (Jakarta).

Adapun pertunjukan utama di IDF VII merupakan kombinasi dari penampilan para koreografer senior dan yang terbilang masih muda. Dari luar negeri, akan tampil Min Tanaka, koreografer asal Jepang berusia 59 tahun yang terkenal eksentrik. Dari Jepang juga akan tampil Takiko Iwabuchi. Negara lainnya yang terlibat adalah Taiwan lewat koreografer Ku Min-Sheng yang terkenal dengan metode contact improvisation. Lantas ada Gerard Mosterd, dari Belanda, yang sudah pernah tampil di Indonesia selama dua kali.

Sebenarnya ada seorang koreografer asal Australia yang direncanakan akan tampil, yakni Cazerine Barry. “Namun, ia mengalami kecelakaan panggung dan cedera. Meski demikian, ia tetap akan datang dan memberikan master class,” ujar Sal Mugiyanto penggagas awal munculnya IDF dan direktur utama festival ini.

Dalam negeri, akan tampil Kadek Suardana dari Bali. Ia koreografer senior pendiri Arti Foundation, sebuah organisasi yang diabdikan untuk pemeliharaan dan pengembangan seni pertunjukan dan budaya Bali. Suardana akan menampilkan Ritus Legong, karya yand diciptakannya dua tahun silam. Setingkat dengannya, akan tampil Bambang Besur Suryono, koreografer asal Surakarta yang kini mengajar tari di Singapura. Ia akan menampilkan Bedhaya Layar Cheng Ho, sebuah karya kolaborasi tari Jawa dan opera Cina.

Dari kalangan muda, akan tampil I Nyoman Sura (Bali), Ali Sukri (Padangpanjang), dan tiga koreografer yang tergabung dalam IKJ Dance Company, yakni Asnawi (Aceh), Hanny Herlina (Jakarta). Para koreografer itu akan terlibat dalam diskusi koreografi tari dan manajemen seni pertunjukan yang akan diselenggarakan pada Jumat (16/7).

Satu hal yang berbeda dari IDF tahun ini adalah penyelenggaraan workshop penulisan kritik tari yang diselenggarakan bekerja sama dengan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI), dari Senin (12/7) hingga Rabu (14/7). Kegiatan ini akan diarahkan oleh tiga pembicara, Edi Sedyawati, Sal Murgiyanto, dan Efix Mulyadi. “Kegiatan ini untuk pertama kalinya diselenggarakan. Acara ini penting karena kita tak hanya bisa mengandalkan kemunculan koreografer saja, tanpa adanya kritik yang hidup disekitarnya. Sementara saat ini banyak sekali pertunjukan yang diadakan,” ujar Sal Murgiyanto.
f dewi ria utari

0 antwoorden

Plaats een Reactie

Meepraten?
Draag gerust bij!

Geef een reactie

Het e-mailadres wordt niet gepubliceerd. Vereiste velden zijn gemarkeerd met *