Sinar Harapan  |  18 July 2004

Penutupan Indonesia Dance Festival

JAKARTA – Indonesia Dance Festival (IDF) VII ditutup di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (17/7). Ajang yagn berlangsung selama empat hari itu memilih tiga komposisi gerak dari tiga koreografer, yaitu Ali Sukri dari Padang Panjang, Gerard Mosterd dari Belanda dan Bambang Besur Suryono dari Surakarta.

Satu-satunya koreografer asal luar negeri malam itu, Gerard Mosterd, hanya mengambil sedikit saja dasar tari tradisi di negerinya.  “Saya mencoba cari inovasi. Karena saya respek pada tari tradisi, saya tidak akan mengopi tradisi,” ujar Mosterd.

Untuk tampil dalam ajang ini, Mosterd mempersiapkan komposisi tariannya dalam dua minggu. Pandangan universalitas dalam geraknya adalah menangkap keseharian dengan pemikiran dan konsep. Gerak keseharian itu kemudian menyatu dengan kelenturan tubuhnya.

Ada satu fenomena Asia yang tajam dicermatinya, yaitu fenomena “jam karet”, sebuah konsep waktu di Asia yang sangat berbeda dengan di Eropa. Namun, Mosterd tidak memberi penilaian tentang mana yang lebih baik. Menurutnya, kondisi yang ada di sebuah masyarakat, termasuk geografis dan cuaca memberikan pengaruh besar untuk budaya setempat.

Gerakan tarinya juga mengombinasikan gerak dan teater.  Ia memulai dengan musik simbolik jam – dengan dentang gamelan. Para lelaki penari mengelilingi perempuan penari, mengingatkan kita akan perputaran bumi saat mengitari mentari. Tangan-tangan mereka bergerak patah-patah, mengingatkan kita akan gerak jarum jam panjang. Kemudian lelaki penari mengangkat tubuh perempuan penari, ibarat bandul jam. Ini terjadi berulang selama tiga kali, di tengah suasana teatrikal yang dibangun oleh Mosterd: adegan penantian seorang perempuan di tengah hujan, dan suasana yang seolah melambat.

Ada juga adegan teatrikal lainnya yang lucu, yaitu saat perempuan dan lelaki saling berkejaran, memperlihatkan adegan pergerakan lambat seolah dalam film ketika pita kaset berjalan tersendat. Berkelahi, berangkulan, memukul, semua dalam adegan lambat. Betapa rumitnya cara Mosterd memandang konsep waktu untuk dipindahkan dalam sebuah sajian koreografi!

(SH/sihar ramses simatupang)

0 antwoorden

Plaats een Reactie

Meepraten?
Draag gerust bij!

Geef een antwoord

Het e-mailadres wordt niet gepubliceerd. Vereiste velden zijn gemarkeerd met *