Koran Tempo  |  20 Juli 2004

Stretching Time [TEMPO Nifran Rifki]

JAKARTA – Dalam latar belakang garis-garis putih tebal melengkung di dinding, sepasang penari bergerak. Gerakannya lentur dari dasar-dasar balet. Tangan mereka sesekali terjulur saling berhadapan. Ketika penari pria memeluk pinggang penari perempuan dalam posisi setengah duduk, diangkat dan digoyangkan tiga kali, tampaklah seperti jarum jam. Tetapi, pergerakan keduanya lalu lebih abstrak. Lima bentuk gerakan diulang tiga kali sebagai penghubung tiga bagian yang diiringi ceracau suara perempuan, sound space, dan sekitar 15 detik bunyi tetes air jatuh di kolam.

Tari kontemporer Stretching Time tersebut merupakan nomor tari yang memiliki kelonggaran waktu sebagai sumber inspirasi. Tema tersebut diungkap Gerard Mosterd dari pemahamannya tentang fenomena “jam karet” yang kemudian dikembangkannya. Meskipun kurang kuat dibanding karya sebelumnya, Luminescent Twilight (2002), garapannya kali ini termasuk salah satu yang menarik di ajang Indonesian Dance Festival 2004 pada Sabtu pekan lalu di Graha Bhaktu Budaya, TIM, Jakarta.

Lahir di Amersfoort, Belanda, pada 1964, Gerard Mosterd yang beribu Indonesia dan ayah dari Belanda ini senang terhadap tari. Ia mempelajari balet klasik, tari kontemporer, dan musik di akademi tari di Royal Conservatory, Den Haag. Lulus dari sekolah itu Mosterd banyak terlibat dengan berbagai kelompok tari internasional.

Sebagai penari freelance, Mosterd ikut dalam proyek tari seperti di Lincoln Centre New York. Pada 1997 ia kembali ke Belanda, menjadi koreografer di produksi-produksi tari yang sebagian besar temanya bersumber dari dua latar kebudayaannya. Pada 2002 ia melakukan tur keliling mengusung karyanya Luminescent Twilight di Jawa dan Bali. Tahun lalu lewat Please Let Me See Your Face. Sementara itu, karya terbarunya, Stretching Time (Jam Karet) tampil pertama kali di acara Pasar Malam Besar of Tong Tong di Den Haag pada Juni lalu. Berikut ini penuturan Mosterd seusai pertunjukan.

TENTANG IDE STRETCHING TIME

Saya tulis beberapa waktu lalu. Saya sedikit stres lima tahun hidup di Eropa. Irama kehidupan cepat. Ketika saya menuju ke sini, dan di pesawat terbang, aaah, relaks. Wow, kita bisa gunakan waktu sesukanya dan benar-benar menikmati hidup. Tempo (waktu) menjadi sangat berbeda. Tetapi, yang juga saya pikirkan adalah kenyataan jam karet.

Saya tidak membuat pertunjukan tari tentang jam karet, tapi pertunjukan tentang ide. Bahwa waktu itu sangat relatif. Karena saya tidak ingin bilang jam karet adalah negatif. Mungkin ada hal atraktif, berpikir waktu adalah hal pertama yang terpikirkan. Di Eropa, kami selalu menggunakan seluruh waktu secara tepat (on time). Kami sebenarnya mencoba mengontrol waktu. Padahal waktu tak bisa dikontrol.

Dua tahun lalu saya membuat garapan dengan menggunakan elemen tarian Asia. Sekarang saya membuat karya baru, tentang konsep seni, yang sekaligus merefleksikan perbedaan Timur dan Barat. Maka, saya pilih bekerja sama dengan penari Indonesia, yakni Wendel Spier dan Miguel Plakku dari Belanda. Saya memadukan mereka untuk menggerakkan ide-ide saya tentang ungkapan waktu.

KONSEP WAKTU YANG RELATIF

Manusia itu relatif. Di sini, di antara aktivitas politik, ekonomi, kita dapat membuat lelucon yang membikin kita nyaman. Di Eropa saya merasa waktu tampak kaku. Serius. Saya selalu ditekan waktu. Jadwal selalu padat, dan tahun lalu sering stres karena terlalu banyak pekerjaan. Maka, saatnya sekarang lebih santai. Orang tak begitu peduli pada jam karet. Setengah atau satu jam terlambat, oke saja.

Tentu saja saya dapat mengopi ide tersebut dan kemudian saya susun di panggung, lalu mengkombinasi gerakan tari dan teater. Kadang kala berupa gerakan cepat, kadang sangat lambat. Tetapi, di panggung penari mengubahnya. Karena waktu adalah ruang, dan ruang adalah waktu. Visualisasi ruang atau visualisai waktu kita dapat memainkan ruang. Latar belakang tidak sekadar garis-garis, melainkan simbol menuju titik menjadi sesuatu. Garis yang melengkungi layar pun, seperti mengarahkan mata seperti kita melihat layar tiga dimensi. Jadilah waktu itu amat relatif.

MUSIK YANG DIHUBUNGKAN DENGAN GERAKAN TUBUH

Saya memang tidak memilih membiarkan bermain jam. Kalau cara mudah, konsep tadi tinggal diwujudkan dengan gerakan-gerakan menyerupai ajam dan memainkan seseorang yang datang terlambang sebagai simbol jam karet. Tetapi, langkah itu tidak merangsang imajinasi. Saya pikir, dengan cara tidak langsung, dapat menghubungkan kami terhadap jam karet. Waktu, dalam jam karet, menjadi elastis. Maka, saya susun gerakan penari seperti dalam keadaan koma, ke tubir kegelapan. Mengorganisasi waktu, mereka ingin melihat untuk mengontrol waktu. Padahal, waktu adalah ruang. Jadinya mereka ingin mengendalikan ruang. Tetapi, mereka tak bisa mengendalikan ruang.

• dwi arianto

0 antwoorden

Plaats een Reactie

Meepraten?
Draag gerust bij!

Geef een antwoord

Het e-mailadres wordt niet gepubliceerd. Vereiste velden zijn gemarkeerd met *