Media Indonesia  |  8 September 2004

DENGAN lentur, anak-anak itu meliukkan tubuhnya. Sesaat, tangan mereka diangkat ke atas. Saat lain, tubuh mungil yang berseragam ketat ini berputar, bertumpu pada satu kaki.  Anak-anak itu generasi baru di belantika tari balet Indonesia. Mereka beraksi ketika Ikatan Pengajar dan Pelatih Balet (IPPB) menggelar Pentas Balet di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (GBB TIM) Jakarta.

Dalam pementasan yang dihadiri ratusan penonton, IPPB menampilkan 10 koreografi dari 10 sekolah balet yang tergabung di dalamnya. Juga koreografi dari koreografer asal Belanda yang beberapa kali menggelar pentas di Indonesia, Gerard Mosterd.

Beberapa komposisi koreografi ditampilkan malam itu oleh para pebalet dari beberapa sanggar balet di Jakarta. Yakni Sailor Dance (Pluit Ballet School), Spanish Girl (Sanggar Pelangi Sunrise), Catching Butterfly (Gracia Ballet), Waltz of the White Angels (Lucy Ballet School), Waltz Dream (Caritas Ballet), Colors of Life (Vidyarani Ballet Studio), Ssss… Sss… Ssst!!! (Genecela Dance Centre), Dreams (Cicilia Ballet), Butterfly (Ratna Ballet School), dan Spanish Concerto (Namarina Dance Company).

“Kita ingin menampilkan kiprah sanggar balet di Jakarta yang semakin hari semakin berkembang pesat. Baik dilihat dari kuantitas peserta, maupun kualitas tarian dari para pebaletnya,” ujar Ketua Umum IPPB Sunny Pranata usai pagelaran, Senin (6/9).

Masing-masing koreografi memang hanya berdurasi pendek. Yakni, sekitar 3-6 menit per tarian. Namun, tiap tarian memiliki jenis koreografi balet yang berbeda. Sailor DanceSpanish GirlCatching ButterflyWaltz of the White AngelsWaltz Dream, dan Butterfly berjenis balet klasik. Sedangkan Colors of Lifedan Dreams berjenis balet kontemporer. Genre balet jazz diwakili oleh Ssss… Sss… Ssst!!!.

Dari beberapa sanggar balet banyak yang menampilkan penari dari kalangan anak-anak. “Jujur saja kita akui kalau balet di Indonesia kekurangan penari balet usia remaja dan dewasa. Karena itu, ada beberapa nomor tarian yang dipentaskan oleh penari balet anak-anak, berusia sekitar 10 tahun, seperti Sailor DanceSpanish Girl, dan Catching Butterfly,” ujar Sunny.

Usai sesi pertama, tampil tarian karya koreografer Gerard Mosterd. Dalam koreografi yang boleh dibilang jauh dari tarian balet yang kita kenal selama ini, dia berupaya untuk memadukan unsur koreografi Timur dan Barat. Karya tersebut berjudul Kebon, yang merupakan sketsa surealis dari sebuah taman melalui tata gerak, tata cahaya, dan tata suara. “Gaya tarian ini adalah campur-campur, gado-gado,” ujar Gerard dengan nada gurau.

Ia mencoba memadukan tarian Timur yang penuh dengan spiritualitas dan perasaan dengan pendekatan koreografi Barat yang sangat teknis, yang dikuasainya. “Saya berupaya mengeksplorasi segenap kreativitas untuk nomor ini. Namun, boleh dikatakan tantangan terbesar untuk saya ketika harus mengajarkan koreografi ini kepada penari nonprofesional. Saya harus bisa membuat mereka tampil seperti layaknya penari profesional,” ujarnya.

Penari yang sudah menggelar pementasan di banyak negara itu mengatakan, tarian Timur dan Barat memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Tarian dari Timur lebih menitikberatkan pada gerakan-gerakan dengan pendekatan yang imajinatif dan bersifat meditatif. Sementara, dari Barat lebih terfokus pada hasil dan intensitas dengan pendekatan yang bersifat teknis.

Dan, dalam Kebon, tariannya tampak sekali bermain di dua area tersebut. Hasilnya memang cukup mengagumkan, yakni koreografi campuran yang dinamis dan meditatif. Tentang makna atau arti dari tarian ini dia menyerahkan pada interpretasi penonton. “Jadi, bebas-bebas saja dalam menafsirkan artinya,” ujar Gerard dalam bahasa Indonesia yang patah-patah.

Judul Kebon ia ambil karena di dalamnya ada beragam tumbuhan dan binatang. Kebon juga bermakna sebagai sebuah tempat bermeditasi. Di tarian ini, dia tidak menyampaikan perasa tertentu. “Saya membiarkannya hadir secara implisit, membuat tarian ini terbuka untuk berbagai interprestasi penonton,” jelasnya mengenai koreografi yang berdurasi 25 menit itu dan dengan tata panggung minimal.
• Eri Anugerah/B-5

0 antwoorden

Plaats een Reactie

Meepraten?
Draag gerust bij!

Geef een reactie

Het e-mailadres wordt niet gepubliceerd. Vereiste velden zijn gemarkeerd met *