Suara Pembaruan  |  9 September 2004

 

IKATAN Pengajar dan Pelatih Balet (IPPB) akan menggelar Pentas Balet di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (GBB TIM) Jakarta pada Senin (6/9) mendatang. Dalam pementasan itu, IPPB akan menampilkan sepuluh koreografi dari sepuluh sekolah balet yang tergabung di dalamnya. Selain itu, akan ditampilkan juga sebuah koreografi dari koreografer kondang asal Belanda, Gerard Mosterd.

Sepuluh koreografi pertama adalah Sailor Dance (Pluit Ballet School), Spanish Girl (Sanggar Pelangi Sunrise), Catching Butterfly (Gracia Ballet), Waltz of the White Angels (lucy Ballet School), Waltz Dream (Caritas Ballet), Colors of Life (Vidyarani Ballet Studio), SSSS…SSS…SSST!!! (Genecela Dance Centre), Dreams (Cicilia Ballet), Butterfly (Ratna Ballet School) dan Spannish Concerto (Namarina Dance Company).

Masing-masing memiliki durasi sekitar 3-6 menit pertarian. Tiap tarian juga memiliki jenis koreografi balet yang berbeda, Sailor Dance, Spanish Girl, Catching Butterfly, Waltz of the White Angels, Waltz Dream dan Butterfly berjenis balet klasik. Sementara Colors of Life dan Dreams berjenis balet kontemporer. Genre balet jazz diwakili oleh SSSS…SSS…SSST!!! Dan spanish ballet dihadirkan lewat nomor Spanish Concerto. Nomor terakhir ini pernah ditampilkan dalam pargelaran GKJ International Festival, sebagai bagian dari pementasan Dance In Motion 2 oleh Namarina Dance Academy.

“Terus terang, kami kekurangan penari balet usia remaja dan dewasa. Karena itu, ada beberapa nomor tarian yang dipentaskan oleh penari balet anak-anak, berusia sekitar 10 tahun, seperti Sailor Dance, Spanish Girl dan Catching Butterfly,” ujar Sunny T Sistyawati-Pranata, Ketua Umum IPPB dalam jumpa pers, Sabtu (28/8) di Jakarta.

Sementara, koreografer Gerard Mosterd menampilkan koreografi yang jauh dari tarian balet. Ia mencoba memadukan unsur koreografi Timur dan Barat, lewat nomor tarian Kebon, sketsa surealis dari sebuah taman melalui tata gerak, tata cahaya dan tata suara.

“Boleh dibilang, gaya tarian ini adalah campur-campur. Saya mencoba memadukan tarian Timur yang penuh dengan spiritualitas dan perasaan dengan pendekatan koreografi Barat yang sangat teknis, yang saya kuasai. Saya berupaya mengeksplorasi segenap kreativitas saya untuk nomor ini. Tantangan terbesar adalah saya harus mengajarkan koreografi ini kepada para penari non professional. Saya harus bisa membuat mereka tampil seperti layaknya penari professional,” ujar Gerard dalam kesempatan yang sama.

Gerard menjelaskan, tarian Timur dan Barat memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Tarian dari Timur lebih menitik beratkan pada gerakan-gerakan dengan pendekatan yang imajinatif dan bersifat meditatif. Sementara tarian dari Barat lebih terfokus pada hasil dan intensitas dengan pendekatan yang bersifat teknis. Dalam Kebon, ia bermain di dua area tersebut, menghasilkan koreografi campuran yang dinamis namun meditatif.

Rencananya, pementasan Kebon akan memakan waktu 25 menit. Gerard sengaja mengambil durasi waktu yang cukup singkat agar tariannya tidak bertele-tele dan tampil sesederhana mungkin. Konsep minimalis ini ia terapkan juga pada penataan panggung dan kostum. Ia hanya akan bermain pada tata cahaya, suara dan momen-momen pada tarian, tanpa ada tata panggung yang rumit.

“Judul Kebon sengaja saya pilih karena di dalamnya ada beragam tumbuhan dan binatang. Kebon juga bermakna sebagai sebuah tempat di mana kita bisa rileks dan bermeditasi. Di tarian ini, saya tidak menyampaikan pesan tertentu. Saya membiarkannya hadir secara implisit, membuat tarian ini terbuka untuk berbagai interpretasi penonton,” jelasnya.

(ID/W-8)

0 antwoorden

Plaats een Reactie

Meepraten?
Draag gerust bij!

Geef een antwoord

Het e-mailadres wordt niet gepubliceerd. Vereiste velden zijn gemarkeerd met *