Sinar Harapan  |  13 September 2005

JAKARTA – Gerard Mosterd, koreografer Belanda keturunan Indonesia, kembali menyajikan karya-karyanya yang bernuansa Barat dan Timur dalam komposisi gerak tarinya.
Oleh : SIHAR RAMSES SIMATUPANG

MENGISI Festival Schouwburg di Gedung Kesenian Jakarta, Mosterd menyajikan dua koreografi berjudul “Angin” dan “Kamu”, selama 2 malam berturut-turut, Sabtu dan Minggu (10 dan 11 September).

Mosterd adalah koreografer yang gandrung mengangkat wacana barat dan timur. Ia kerap mendialogkan budaya dua kutub ini. Dengan bahasa gerak, dia memadukan persoalan-persoalan lokal antarnegara di dalam bahasa yang universal.   Namun, dengan konsep semacam itu Mosterd tak tertarik ke arah verbalitas. Pada nomor-nomor pertunjukannya kali ini-juga nomor-nomor sebelumnya-unsur utama tarian, yaitu gerak tetap diperlihatkan. Selain gerakan tarian Asia yang ditampilkannya, ada gerakan Folk Walk yang merupakan kekhasan gerak tarian Eropa. Hal ini terasa sekali dalam sajiannya, tentu saja, selain gerakan eksploratif dan orisinal yang “wajib” disajikan para koreografer kontemporer.

Nomor pertamanya adalah “Angin”, yang memakan waktu 30 menit. Penari utamanya adalah Ming Wei, penari latar Amsterdam dan berkebangsaan Singapura. Diawali dengan cermin yang terletak pada sebelah kiri panggung, dan suara repetitif serupa gelombang, Ming Wei berekplorasi dengan gerakan berulang dan mendayung pada beberapa tungkai tubuhnya, termasuk sendi tangan, kaki dan kepala. Membungkuk, maju dan mundur.

“Angin” adalah hasil kolaborasi Mosterd dengan penari Shintaro O-Ue yang merupakan respons untuk menyusutkan persengitan sejarah antara Belanda dan Jepang akibat perang. Gerakan-gerakan Asia yang lentik, musik bambu, memperlihatkan napas semacam itu.

Eksplorasi yang ditampilkan gemulai atau patah-patah, antara jemari yang lentik dan halus, dipadukan dengan tampilan patah-patah, memang terkesan tak beraturan. Seperti mempertemukan balet dengan tarian Jawa. Bisa jadi, inilah warna Mosterd, koreografer Belanda yang beribu Indonesia. Ia memiliki latar tradisi tari dan musik Indonesia di keluarganya. Namun, ia tak hanya belajar gerakan tubuh dalam tarian Bali dan Jawa – secara teknik, tapi dia melihat bahwa Asia lebih pada pendekatan filosofi dan rasa. “Hal yang sama pada tarian Myanmar, Kamboja atau Thailand,” papar seniman beribu orang Indonesia ini.

Semua itu dipadukan dengan unsur pada tarian dari barat seperti beberapa dasar gerakan balet atau folk wang asal Jerman yang dipelajarinya, dengan improvisasi gerak. Pada penarinya, dia juga menurunkan konsep di luar teknik semacam itu. Dan tentu saja, improvisasi gerak sebagai seorang koreografer!

KONSEP DAN GERAK

Tarian kedua memang terasa lebih terkemas rapih sehingga menarik perhatian pengunjung. Dengan lima penari lelaki dan perempuan, latar musik dan cahaya, formasi yang berbeda satu sama lain. Diawali visual gerakan penari lelaki dan perempuan di dalam layar, panggung pun diisi oleh gerak dialogis semacam itu. Dalam keromantisan dan kesyahduan, para penari “saling membaca” gerakan. Konsep yang merupakan “semacam sindiran” pada standar ganda yang terdapat di Indonesia karena bereaksi negatif terhadap ekspresi perasaan lewat kontak fisik.

Gerak yang antar pasangan penari terutama perempuan dan lelaki, dialogis merespons tubuh satu sama lain. Gerakan sensual yang tetap terjaga sebagai nilai estetik dan bukan dengan warna yang vulgar itu, justru lebih kuat. Penari perempuan lebih bisa mengalunkan gerakannya, merespons, mengikuti gestur penari lelaki.

Gerard kemudian protes semua fenomena itu dalam bahasa simbol. Puisi-puisi lewat layar proyeksi yang memperlihatkan ungkapan cinta antarkedua pasangan secara mendalam. Penyatuan hati dan ekspresi yang menautkan antar pasangan. Puisi itu telah ada sejak masa lampau, lewat ungkapan di teks-teks serat kuno, dalam bahasa Sansekerta berhuruf “honocoroko” yang justru terbuka terhadap ungkapan perasaan semacam itu.  Selain itu, kemampuan pencahayaan, instrumen sintetis yang mengisi gerakan, juga setting berupa proyeksi dan kain putih transparan di belakang panggung memainkan fungsinya.

0 antwoorden

Plaats een Reactie

Meepraten?
Draag gerust bij!

Geef een antwoord

Het e-mailadres wordt niet gepubliceerd. Vereiste velden zijn gemarkeerd met *