Koran Tempo  |  14 September 2005

GERARD MOSTERD KEMBALI MENAMPILKAN KARYA TENTANG PERSINGGUNGAN TIMUR DAN BARAT.

JAKARTA – Tirai itu melayang tipis dari atap. Ia berjumlah lima berjajar horizontal dengan jarak di antaranya dan memantulkan sebentuk gambar tengah memampangkan lelaki dan perempuan menari pelan. Di sana, lelaki itu tampak memegangi kepala pasangannya dari belakang. Perlahan kedua tangannya memutar kepala perempuan itu. Gerakan yang sama juga dilakukan perempuan itu kepada pasangannya.

Keintiman ini menjadi pembuka nomor tari Jij/Kamu karya Gerard Mosterd yang tampil dalam bagian Festival Schouwburg IV di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu (10/9) dan Minggu (11/9). Menampilkan lima penari, karya terbaru Mosterd ini berdurasi 60 menit yang menyajikan pernyataan politis Mosterd atas sejumlah kasus hukum di beberapa daerah di Indonesia yang menjatuhkan hukuman di depan publik atas kasus-kasus afeksi fisik, semacam berciuman atau bersanggama.

Pernyataan politis ini muncul secara sangat implisit dalam karya yang memiliki sejumlah bagian di dalamnya. Ini karena Mosterd membungkusnya dalam simbol-simbol yang tak hanya meliputi gerak, tapi juga artistik panggung yang minimalis.

Sejak awal Mosterd sudah menyajikan keintiman dua manusia. Keintiman yang indah dan mesra yang tak masuk akal jika kemudian dipersalahkan. Ketika kelima penari muncul koreografer blasteran Indonesia-Belanda itu memunculkan gerak yang mengeksplorasi kekuatan teknik dan gerak keseharian yang terstilisasi. Di bagian awal, ia mengelompokkan kelima penari di kiri depan panggung dalam cahaya yang tersiram dari atas. Mereka berdiri berimpitan dan bergerak dalam tempo lambat. Ketika bagian selanjutnya menyajikan duet sepasang penari lelaki-perempuan, cahaya diciptakan dari dalam panggung, menyorot secara horizontal.

Penciptaan gerak yang menarik terlihat saat dua penari berinteraksi. Itu terutama di bagian kedua yang memperlihatkan penari perempuan dan lelaki bergerak dalam tempo lambat, saling membelitkan badannya, melepaskan diri, dan saling mengejar dalam tempo medium. Pendekatan ini memunculkan impresi pekatnya gravitasi dalam setiap gerak mereka. Hal ini ditimbulkan oleh tempo medium yang mengiringi setiap gerak bahkan saat meloncat. Selain itu, impresi tersebut ditimbulkan dari bentuk gerakan yang sebagian besar memposisikan tubuh mendekati tanah.

Secara struktur, karya Mosterd terbilang standar. Ia memulai dan mengakhiri gerakan dengan adegan yang hampir sama, yakni mengumpulkan kelima penari di sebelah kiri depan panggung. Bedanya, ia mengakhiri dengan berlariannya mereka ke arah tirai yang mewakili kehidupan masing-masing individu tersebut. Lantas terjadi chaos ketika mereka semua bertubrukan, berlari melintasi panggung secara acak, dan bergerak bebas sambil menerjang tirai. Mereka ambruk, lampu padam, dan layar kembali menyajikan video yang sama, diselingi gambar sejumlah kain motif batik.

Sejak pertama tampil di Indonesia dengan karya Luminescent Twilight di Jakarta tiga tahun silam, koreografer kelahiran 1964 ini kerap menyajikan tema-tema perlintasan dua budaya, terutama soal Barat dan Timur dan tegangan di antara keduanya. Tema ini juga kembali muncul di karya pertama di GKJ malam itu, Angin, berdurasi 30 menit.

Ditarikan secara solo oleh Ming Wei Poon, penari berkebangsaan Singapura yang tinggal di Amsterdam, Angin diciptakan Mosterd pada 2001. Angin berisi responsnya tentang konfrontasi yang terjadi antara warga Belanda-Indonesia saat Kaisar Akihito mengunjungi Belanda saat itu. Gerakan di bagian akhir memperlihatkan pengaruh Jawa.

Mungkin konsistensi tema Timur-Barat ini sengaja diperlihatkan Mosterd sebagai ciri atau identitas koreografinya. Namun bagi yang mengikuti karyanya sejak awal, pengulangan tema semacam ini bisa menimbulkan kejenuhan. Sebab, Timur selalu diperlihatkan dengan tempo lambat dan bentuk gerakan Jawa. Sementara itu, Barat ditampilkannya dengan struktur, kekuatan teknik, dan eksplorasi gerak keseharian. Perlu ada pencapaian yang lebih baru dari sekadar menggabungkan keduanya.

© F DEWI RIA UTARI

0 antwoorden

Plaats een Reactie

Meepraten?
Draag gerust bij!

Geef een antwoord

Het e-mailadres wordt niet gepubliceerd. Vereiste velden zijn gemarkeerd met *