Khazanah  |  17 September 2005

PENTAS kosong. Ming Wei Poon yang plontos berdiri agak memojok, membelakangi penonton. Ia hanya memakai kaos oblong. Tengkuk, bahu, dan punggungnya bergerak perlahan, seperti menggeliat mengurai sesuatu. Seterusnya ia terus berbalik lewat eksplorasi gerak yang tak terduga, meski masih dalam tempo yang perlahan. Musik nggeremang, monoton, semacam suara garukan. Cahaya datang agak lemah, menyorot menggelantung dari depan pentas, garis pudar yang mengurung Ming Wei Poon. Sebuah awal yang menawarkan keheningan, namun yang menyembunyikan sesuatu yang lebih dari sekadar kesepian atau juga semacam kegelisahan. Atau mungkin juga bukan keduanya, melainkan sejenis keinginan untuk menghadirkan keheningan dalam wajahnya yang lain. Keheningan yang menghembuskan semacam keinginan untuk merangkum seluruhnya.

Di atas pentas yang kosong melompong itu tubuh memang menjadi satu-satunya materi yang dimiliki Ming Wei Poon. Selama 30 menit itu tak ada apa dan siapa pun kecuali Ming Wei Poon dan tubuhnya. Tubuh yang tak hanya menjadi kendaraan bagi apa yang hendak diungkapkan, melainkan yang telah memaknai kehadirannya sendiri. Sebagai makna, lewat kualitas estetika gerak yang demikian fasih, Ming Wei Poon menawarkan olahan dan eksplorasi tubuh hingga pada penemuan imaji dan idiom yang terduga.

Lalu musik terhenti. Sepasang lampu yang sejajar dengan permukaan pentas menyemburkan cahaya tajam ke arahnya. Sesekali ia terbaring, bergulingan, atau melentingkan tubuhnya, tegak di antara kedua kaki, membungkuk, atau gerak lengan dan jemari tangan yang demikian lembut. Kaki, tangan, kepala, pinggul, tengkuk, bahu, semuanya mengalir dalam gerakan-gerakan yang muncul dari sesuatu yang tak terduga.

Tubuh itu seakan kehilangan bobot, terpisah dari ruang dan terlepas dari gravitasi. Bergerak lembut, namun dengan otot-otot lengan yang demikian kekar. Kelembutan dan kekuatan seakan bukan lagi sebagai sesuatu yang kontradiktif atau paradoks, melainkan sejenis pertemuan yang mengurai batas di antara keduanya.

Dan itulah “Angin”, sebuah nomor koreografi karya Gerrard Mosterd yang tampil di Gedung Kesenian Sunan Ambu STSI Bandung (15/9). Bagi sebagian publik tari di Indonesia, mungkin karya-karya Gerrard Mosterd bukanlah sesuatu yang asing. Sebelum tampil di GK Sunan Ambu STSI dengan dua komposisi koreografinya malam itu, ia juga pernah tampil mempresentasikan karya-karyanya di Selasar Art Space Bandung dan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta tahun lalu.

Salah satu karakter yang mudah dijumpai dari karya-karya koreografer berdarah campuran Indonesia Belanda ini adalah nafas ungkapan yang mempertemukan modern dance Barat dan ekrpresi eksotik Timur (Asia). Dalam konteks ini, ada wilayah kreasi yang membayang di situ, yakni Timur yang tak hanya diperlakukan sebagai sebuah tempelan untuk memberi aksentuasi yang lain di hadapan modern dance . Idiom-idiom pola tari Jawa atau gestur tubuh yang mengingatkan kita pada apa yang banyak terdapat di kuil-kuil India, juga tidaklah an sich hadir begitu saja sebagai dunianya sendiri. Melainkan bagaimana ekspresi Asia itu diperlakukan lewat konteks sebuah sikap pandangan. Hadirnya idion-idiom Timur dalam tubuh modern dance menjadi sebuah dunia yang seakan-akan memaktubkan pernyataan bahwa interaksi keduanya memungkinkan lahirnya semacam sintesis. Atau barangkali juga tak ada sintesis itu. Melainkan hanya bagaimana Timur dihadirkan lewat sebuah cara pandang yang datang dari luar dirinya.

“Angin” hendak merepresentasikan hal itu. Sebuah gerak mengalir yang tak bisa dihentikan, yang menjelajah ke segenap ruang, mengurai batas antara Barat dan Timur. Ia membawa jejak dan suara yang sayup-sayup serta menyatukan seluruhnya, atau mengurai batas di antara keduanya. Nomor koreografi pendek ini awalnya hanyalah sebuah versi pendek yang ditampilkan oleh Gerrard Mosterd sendiri, yang kemudian berkembang menjadi sebuah nomor solo selama 30 menit.

Usai nomor pertama yang impresif itu, mendadak penonton diminta meninggalkan gedung pertunjukan untuk beristirahat dan para kru akan mengatur stage untuk penampilan nomor kedua. Sebagian besar penonton mengeluh karena mengapa juga harus ada istirahat, toh , pertunjukan pertama tadi hanya berlangsung 30 menit? Banyak penonton enggan beranjak meski panitia berulangkali memintanya, sampai kemudian kru dari Gerrard Mosterd sendiri yang memintanya.

Stage macam apa sebenarnya yang tengah disiapkan hingga tak seorang pun penonton boleh tinggal di dalam gedung pertunjukan?

Tapi ternyata tak ada apa pun, selain video yang menyorot ke panggung dengan potongan adegan tarian sepasang lelaki dan perempuan yang langsung menyambut penonton masuk kembali untuk menonton “Kamu/Jij”, nomor kedua yang disuguhkan malam itu selama 60 menit.

Seperti “Angin”, nomor ini kaya dengan ekspolorasi gerak dan interkasi tubuh yang tak terduga. Sebutlah, ketika adegan sepasang lelaki dan perempuan, lelaki dan lelaki, atau perempuan dan perempuan melakukan percumbuan. Kelembutan dan erotisme yang begitu puitis hadir dalam struktur makna estetika tarian yang sayup-sayup kembali membawa aroma Timur. Aroma yang terasa lain karena berinteraksi dengan idiom-idiom modern dance (dalam hal ini balet). Tempo yang lamban menyinapkan emosi tarian yang liar dan terselubung.

Yang misteri dan yang telanjang dibiarkan berada dalam ruang abu-abu. Sesuatu yang tabu seolah tengah hendak diungkapkan. Hasrat-hasrat seksualitas dengan segenap keganjilannya, yang dalam tradisi Jawa hanya tampil berupa teks, dalam nomor diungkapkan lewat simbol-simbol tubuh. Pengulangan dalam beberapa bagian hadir dalam emosi dan tempo yang berbeda-beda.

Sayang, malam itu pertunjukan sering terganggu oleh ulah sejumlah penonton. Tak hanya batuk-batuk yang bersahutan di tengah keheningan pentas, tapi juga karena beberapa penonton yang ternyata masih dihinggapi penyakit lupa, dan berbunyilah handphone-nya. Ssssstttt! (Ahda Imran)***

0 antwoorden

Plaats een Reactie

Meepraten?
Draag gerust bij!

Geef een antwoord

Het e-mailadres wordt niet gepubliceerd. Vereiste velden zijn gemarkeerd met *