Solo Pos  |  20 September 2005

Seorang penari pria muncul dari kegelapan kemudian melenggak-lenggokkan tubuhnya secara sertamerta selama beberapa saat, kemudian terduduk membungkuk. Sesaat selanjutnya, liukkan tubuh atletis sang penari seolah-seolah mengisyaratkan suatu ketidakberdayaan.  Itulah salah satu tarian konseptual karya Gerard Mosterd berjudul Angin, yang digelar di Teater Besar Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Solo, Minggu (18/9) malam.

Seniman dan koreografer asal Belanda ini dalam Angin mencoba memadukan dua budaya yang memiliki banyak perbedaan ke dalam gerakan, ruang, suara dan cahaya. Keempat unsur tadi berhasil disatukan secara baik oleh Gerard dalam tarian Angin berdurasi 30 menit ini yang dibawakan secara apik oleh penari kelahiran Singapura, Ming Wei Poon.

Selain tarian Angin, Gerard juga menampilkan karya lainya berjudul Kamu/Jij. Tarian yang dibawakan oleh empat orang penari ini menurut sang koreografer terinspirasi dari sebuah naskah kolonial abad ke-19 yang ditulis oleh Louis Couperus berjudul The Hidden Power.   Kembali, dalam tarian ini Gerard mencoba mengkolaborasikan dua buah kultur yang berbeda (Indonesia-Belanda). Tarian ini merupakan koreografi yang menarik untuk lima penari, lima kelambu dan sebuah video beamer secara khusus fokus pada subyek dari moralitas erotis ganda.

Gerard menyebutkan sejak Couperus mendeskripsikan secara rahasia ambiguitas sensual di Jawa Timur satu abad lalu, orang indo Belanda-Indonesia dan selebihnya komunitas Indonesia, masih bergelut dengan sikap ganda, hasrat dan bagaimana mengekspresikannya. Gerard seakan ingin mengungkapkan bahwa moral publik dan hukum terkadang mengekang kealamiahan tingkah laku manusia dan kebutuhannya.  Pada akhir pertunjukkan berdurasi 60 menit ini, ditampilkan sebuah teks kuno berbahasa Jawa mencoba mengingatkan tentang masa dimana ekspresi erotis dianggap alami bahkan puitis.

Koreografer yang lahir tahun 1964 keturunan Indonesia Belanda ini menggali konsep koreografinya mengenai keuntungan dan ketidakberuntungan dibesarkan dalam dua identitas budaya yang berbeda, yakni Eropa dan Asia.

Melalui perpaduan elemen-elemen dari barat dan teater dari Asia Tenggara dengan mengadakan workshop-workshop, ia bertujuan menyumbang dialog kebudayaan kontemporer. Dan meningkatkan pengertian khususnya antara Belanda dan kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia yang telah berada dibawah kolonial Belanda selama kurang lebih 350 tahun. m22

0 antwoorden

Plaats een Reactie

Meepraten?
Draag gerust bij!

Geef een antwoord

Het e-mailadres wordt niet gepubliceerd. Vereiste velden zijn gemarkeerd met *