Koktail  |  2 September 2007

Hubungan vertical dan horizontal digarap dua koreografer dari dua Negara.  Perjalanan tak mulus dalam sebuah proses penciptaan
F Dewi Ria Utari dewiria@jurnas.com

Seniman adalah tuhan dari karya mereka.  Mereka merencanakan ide, mengolah inspirasi menjadi bentuk.  Tak heran jika sangat sulit untuk mengajak mereka berkompromi saat mereka dalam proses mencipta. Toh kendala ini sudah sangat disadari Boi G Sakti (Indonesia) ketika mengucurkan gagasan untuk membuat karya bersama Gerard Mosterd (Belanda).  “Bagi saya ini tantangan untuk lebih arif, untuk memberi luang kepada teman sesama seniman untuk sama-sama memberikan tawaran,” ujar Boi G Sakti.

Ide pun mulai digagas berdua.  Kesepakatan pun diraih.  Mereka akan menggarap konsep hubungan horizontal dan vertikal yang kerap terjadi dalam dunia manusia.  Horizontal adalah suasana hati manusia sementara vertikal adalah mind atau pemikiran manusia.  Dua kondisi manusia inilah yang menjadi konsep awal munculnya karya PARAdise… a Woman? Bundo Kanduang: Jamuan Bisu yang ditampilkan di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) pada Rabu (5/9) dan Kamis (6/9).

Kemudian tema ini dijabarkan Boi dalam filosofi Bundo Kanduang dalam budaya Minang – asal leluhur Boi.  “Konsep Bundo Kanduang itu adalah nilai ideal wanita yang berhasil memikul beban keluarga dan kaumnya,” ujar ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini. Kentalnya nilai-nilai Minang dalam diri Boi G Sakti memang masih menjadi sumur inspirasi yang tak pernah kering dalam diri koreografer penerima Bessie Award di New York pada 1991 ini.

Di karya ini, Boi memang melihat filosofi Bundo Kanduang yang begitu mempengaruhi keberadaan sistem matriarkal Minang. Peran besar wanita, diterjemahkan Boi semacam devosi tanpa pamrih dari seorang wanita dan alam.  Pemberian ikhlas yang diberikan alam kepada manusia, sama halnya dengan kasih perempuan kepada anak dan keluarganya.  Di pihak lain, silent devotion ini diterjemahkan Boi sebagai jamuan bisu, di mana juga mengandung arti disharmoni yang dicontohkan terjadinya keheningan dalam sebuah perjamuan.  Keheningan menjadi indikasi dari adanya ketegangan yang dipicu persoalan.

Sementarai mind dimaknai sebagai kondisi di mana manusia kadang memakai keberadaannya secara logika, akal, atau otak.  Inilah posisi vertikal yang kerap memutuskan manusia dari hubungannya dengan sesama dan daria bumi tempat mereka berasal. Pasalnya dengan otak, manusia hanya berkutat pada dunia di dalam dirinya semata. Perlintasan vertical dan horizontal ini kemudian disimbolkan dengan desain kotak-kotak sebagai latar (backdrop) panggung.  “Namun saya tak puas dengan hasilnya, karena itu jauh dari rencana saya semula.  Hasil seperti itu sudah ada dari sejak sepuluh atau lima belas tahun lalu'” ujar Boi G Sakti.

Di depan latar itulah, tujuh penari bergerak dalam 10-11 adegan (scene) yang dirancang Boi dan Gerard.  Adegan pertama memperlihatkan duet seorang penari lelaki dan seorang penari perempuan yang mengilustrasikan kisah Adam dan Eva.  Adegan-adegan selanjutnya memperlihatkan perpaduan gerakan abstrak yang mengeksplorasi kemampuan teknik penari dan sejumlah gerakan simbolis yang melibatkan beberapa properti: penutup mata, suntiang, dan ceret.

Bagian di mana penari bergerak dengan mengeksplorasi keberadaan Suntiang (hiasan kepala untuk wanita Minang saat menikah) dan ceret, sangat kental terasa bahwa itu kreasi Boi.  Sarat simbol dengan gerakan yang berangkat dari gaya tradisi Minang yang sudah distilisasi.  Suntiang bagi Boi tak hanya sekedar hiasan.  Di dalamnya terkandung makna tentang simbol kedewasaan, yang dikenakan perempuan saat ritual pernikahan – suatu fase di mana mereka tak lagi sendiri, namun harus bertanggung jawab kepada suami dan keluarga.  Secara kasat mata memang indah, namun di sisi lain, suntiang adalah tanda dimulainya beban hidup.  Tak heran juka beban suntiang dalam sebuah pernikahan Minang, seringkali begitu berat sehingga membuat pening kepala.

Sementara ceret merupakan simbol dari keikhlasan yang diberikan tanpa pamrih.  Sebagai benda yang digunakan untuk menuang air, ceret dimaknai sebagai cara perempuan mengisi kekosongan, bagaimana ia menyusui anaknya, atau menuang kasih kepada yang dahaga. Sayangnya, gerakan penuh simbol yang berharga itu tak lagi utuh ketika harus dipasangkan dengan sejumlah adegan yang dirancang Gerard Mosterd.  Diakui Boi, bahwa selama dua bulan proses kerja sama tersebut, terjadi ketegangan di sana sini.

“Saya harus jujur bahwa saya tidak puas dengan hasilnya.  Sepuluh  hari sebelum pementasan banyak terjadi perubahan, bahkan scene terakhir belum selesai,” ujar Boi. Sepertinya ketegangan dan proses yang berjalan tidak sesuai harapan ini mempengaruhi hasil akhir.  Banyak mood yang terputus dan kurang mengalir yang saya rasakan saat menonton karya ini.  Lonjakan dan lompatan seolah terjadi di perjalanan mengikuti pementasan ini.  Terkadang ada adegan yang sangat mudah dinikmati dan dipahami, lantas tiba-tiba berbelok ke ruang gelap yang memaksa saya meraba-raba mencari terang.

Kerja sama tak mulus ini akhirnya mengkondisikan karya PARA_dise… a Woman? Bundo Kanduang: Jamuan Bisu tidak sama tampilnya di tiap kota.  Karya ini pertama kali dipentaskan di Solo pada 1 September,  kemudian Surabaya pada 3 September, Jakarta, kemudian Yogyakarta pada 9 September.  Kemudian akan dibawa ke Bangkok (12 September), Kuala Lumpur, Singapura, kemudian Belanda, Jerman, Denmark, Swedia, dan Belgia.  Hingga tur hari terakhir di Yogyakarta, Boi belum juga menemukan formula yang tepat di adegan penutup.

Secara proses, kolaborasi ini sejatinya menarik.  Apalagi dilihat dari latar belakang kedua koreografer yang sangat berbeda.  Boi saya kenal sebagai koreografer yang begitu meriah dan mewah dalam hal artistik dan gerakan yang sarat simbol dan kaya tradisi – terutama Minang.  Sementara sepanjang tiga kali melihat karya Gerard Mosterd, saya menilai bahwa koreografer lulusan Royal Conservatory di Den Haag ini sangat minimalis dalam hal artistik, banyak bermain dengan pencahayaan kelam, temaram, dan merancang gerak yang abstrak.

Sayangnya, menilai sebuah karya memang tak semata dilihat dari peristiwa proses.  Pada akhirnya adalah sebuah output berupa pentasan.  Dengan durasi satu jam, karya ini terasa melelahkan karena alurnya tak mulus dan sangat terasa pembagian adegan milik masing-masing koreografer.  Tak gampang memang melahirkan sebuah kolaborasi di dunia seni.

0 antwoorden

Plaats een Reactie

Meepraten?
Draag gerust bij!

Geef een reactie

Het e-mailadres wordt niet gepubliceerd. Vereiste velden zijn gemarkeerd met *