Indo Pos  |  7 September 2007

TENTANG IBU: Kolaborasi dua koreografer, Boi G. Sakti dan Gerard Mosterd, menghasilkan kreasi tarian menawan pada Festival Schouwburg VI di GKJ, kemarin malam.

MENGHORMATI orang tua, terutama ibu, akan berbuah pahala besar.  Hingga akhirnya, muncullah istilah surga berada di bawah telapak kaki ibu.  Namun, bagimana jika sang ibu ternyata tak selalu berperilaku pada mestinya? Menelantarkan anak misalnya.  Apakah surga kemudian tak lagi berada di bawah telapak kakinya? Pertanyaan kontemplatif inilah yang diangkat oleh koreografer Boi G. Sakti dan Gerard Mosterd pada karya kolaborasi mereka yang bertajuk PARAdise a Woman? Bundo Kanduang: Jamuan Bisu di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Rabu malam lalu.

Kolaborasi dua koreografer itu menjadi salah satu penampil pada rangkaian Festival Schouwburg VI yang akan berlangsung hingga 29 September di GKJ. Karya tari kontemporer ini sarat makna kontemplatif.  Boi G. Sakti membidik realitas banyaknya wanita-wanita yang terkesan tak lagi sanggup menerima beban sebagai seorang ibu atau bundo ataupun kedewasaannya sebagai manusia beserta segala tanggung jawab sosialnya.

Secara verbal, Boi menggunakan suntiang (semacam bando bertusuk konde hiasan kepala, Red) sebagai simbol beban kedewasaan itu.  Pada salah satu adegan tarian, penari mencabuti suntiang itu dari kepalanya.  Lalu, membantingkannya di lantai panggung. “Apakah suntiang sudah terlalu berat bagi bundo? Apakah  masih ada surge di bawah telapak kaki ibu?  Pertanyaan kontemplatif ini yang coba saya angkat,” ujar Boi usai pementasan. (tir)

0 antwoorden

Plaats een Reactie

Meepraten?
Draag gerust bij!

Geef een reactie

Het e-mailadres wordt niet gepubliceerd. Vereiste velden zijn gemarkeerd met *