Kompas  |  9 September 2007

Pertunjukan tari berjudul “Paradise a Woman? Bundo Kanduang: Jamuan Bisu” karya koreografer Boi G Sakti (Indonesia) dan Gerard Mosterd (Belanda) dalam Festival Schowburg VI di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu (5/9)

 

Koreografer Boi G Sakti berkolaborasi dengan seniman asal Belanda, Gerard Mosterd, dalam pentas tari bertajuk “Paradise… a Woman? Bundo Kanduang: Jamuan Bisu”.  Meski menyoal budaya perempuan di Minangkabau sebagaimana karya-karya Boi sebelumnya, pertunjukan di Gedung Kesedian Jakarta, Rabu dan Kamis (6/9) malam itu terasa lebih kontemplatif.

OLEH ILHAM KHOIRI

Kolaborasi berdurasi sekitar satu jam ini melibatkan tujuh penari dari dalam dan luar negeri, yang semuanya tampil seragam dengan celana hitam dan kaus putih.  Dari Indonsia, ada Davit, Mislam, Verawaty, dan Eka Octaviana.  Mereka menari bersama Masako Ono (Jepang), Amaranta Velarde (Spanyol), dan Leonor Carneiro (Portugal). Pentas dibuka dengan penampilan dua penari, laki-laki dan perempuan, yang tengah bergulat.  Keduanya mengumbar gerak lentur yang menyiratkan hasrat untuk saling berebut kendali atau saling menguasai.  Beberapa gerakan mirip perilaku hewan.

Panggung kemudian jadi hening.  Sejumlah penari duduk khidmat di sekeliling meja kecil.  Satu penari lelaki bergerak pelan seperti membasuh dan mencium kaki penari perempuan. Kekhidmatan itu dibuyarkan oleh tingkah para penari berubah beringas.  Meja dibolak-balik dan dijadikan ajang berunjuk diri.  Mereka menggeliat dan berputar-putar dengan menggunakan suntiang di kepala, semacam mahkota berwarna emas yang biasa dikenakan pengantin perempuan dalam tradisi Minang.  Saru penari melepaskan suntiang-nya.

Di tengah suasana itu, muncul satu penari bergerak patah-patah merespons musik yang mirip potongan kata-kata.  Muncul lagi satu laki-laki dan perempuan dengan mata ditutup kain, yang berusaha saling menyentuh.  Meski mempercepat gerakan, keduanya tak juga bisa saling menjangkau. Dinamika gerak itu mereda saat satu penari membawa teko berisi pasir.  Pasir itu dituangkan membentuk lingkaran besar.  Para penari berdiri teratur mengelilingi lingkaran itu seraya bergerak memutar.  Di belakang panggung muncul gambar bola dunia yang juga berputar dan kemudian menghilang pelan.

SUPERIORITAS PEREMPUAN

Kolaborasi ini berangkat dari kegelisahan Boi dan Gerard melihat budaya matriarchal dan matrilineal di Minangkabau yang makin digeser perubahan zaman.  Lewat karya terbaru ini, Boi hendak mempertanyakan, masihkah tradisi superioritas perempuan di Minang bertahan ketika perempuan makin sulit memikul tanggung jawab?  Saat bersamaan, kaum lelaki berusaha merebut kekuasaan itu.

Perebutan kekuasaan disampaikan dengan apik lewat duet penari laki-laki dan perempuan.  Kearifan tradisi yang makin hilang digambarkan mlalui adegan meja yang diinjak atau mahkota suntiang yang dilepaskan.  Semua konflik itu lantas dikunci dalam adegan yang mencerminkan kebersamaan, yaitu metafor lingkaran pasir. “Semakin sulit menemukan Bundo Kanduang, perempuan matang yang mengabdi untuk memenuhi tanggung jawab keluarga.  Pengabdian itu bisa diumpamakan bagai jamuan bisu, memberi tanpa berharap kembali,” jawab Boi. “Tidak mudah menyatukan dua pribadi yang sudah punya pengalaman dan jalur karya sendiri-sendiri”

LEBIH KONTEMPLATIF

Jamuan Bisu memperlihatkan kretivitas Boi yang terus tumbuh.  Tak terbebani oleh pakemnya sendiri yang sudah memperoleh apresiasi bagus, seniman lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu terus mencari bahasa gerak yang segar. Komposisi, struktur, dan  tata gerak dalam pentas kali ini mencerminkan kematangan Boi untuk lebih mendalami wilayah isi ketimbang tampilan yang serba permukaan.  Kegelisahannya terhadap budaya matriarchal di Minangkabau yang terancam hilang disajikan lewat metafora gerak yang halus.  Efek-Efek artistik hasil olahan keterampilan panggung agak dikurangi.

Nuansa itu berbeda dengan karya-karya Boi sebelumnya yang memberikan porsi lebih besar bagi estetika gerak di atas panggung sehingga penonton lebih dimanjakan kenikmatan visual.  Setidaknya itu terbaca pada beberapa karya sebelumnya, seperti Batagak (1989), Amai-amai (1992), Dongeng yang Berlari (1992), Abad Adab nan Sakit (1993), Siti Nur Bahaya (1994), dan Di Jalan Tua (2001).

Sebagai kolaborasi pertama Boi-Gerard yang digarap sekitar dua bulan, Jamuan Bisu belum memperlihatkan perpaduan kreativitas yang lebur.  Pentas masih menyisakan lubang-lubang kecil yang agak mengganggu keutuhan karya.  Transisi gerak di antara peralihan babak terasa agak kasar, demikian pula musik yang beberapa kalik berhenti di tengah jalan. “Tidak mudah menyatukan dua pribadi yang sudah punya pengalaman dan jalur karya sendiri-sendiri'” kata Gerard.

Pertunjukan yang bakal dipentaskan di mancanegara itu tidak maksimal karena aspek multimedia yang disiapkan Gerard tak bisa ditampilkan penuh.  Keterbatasan teknis membuat beberapa adegan dilakukan dengan hanya mengandalkan latar panggung asli berupa kotak-kotak putih di tengah blok warna hitam saja. Jika saja tayangan multimedia lengkap, barangkali penonton lebih mudah berimajinasi dan menangkap metafor dari gerak-gerik penari.

0 antwoorden

Plaats een Reactie

Meepraten?
Draag gerust bij!

Geef een reactie

Het e-mailadres wordt niet gepubliceerd. Vereiste velden zijn gemarkeerd met *