Kompas  |  10 September 2007

Perempuan Minangkabau memiliki kebanggaan dan mempati tempat terhormat dalam masyarakat Sumatera Barat yang memegang teguh kekerabatan secara matriarchal dan matrilinieal.  Kebanggaan itu terjadi karena pernah ada raja yang bergelar Bundo Kanduang (ibu kandung) yang sangat dihormati.
Oleh M SYAIFULLAH

Rasa hormat terhadap seorang ibu kandung dan lingkungan yang menjadi tertanyaan terhadap peran perempuan Minang sekarang ini.  Pergulatan peran perempuan tersebut yang menjadi bahan kontemplasi dalam kolaborasi seni teater tari, antara koreografer asal Sumatera Boi G Sakti dengan Gerard Mosterd pada Festival Asia Tari Jogja 2007 di Musemum Seni dan Budaya Jawa Ulen Sentalu, Kaliurang, Kabupaten Sleman, Sabtu (8/9) malam.  Karya mereka tersebut berjudul Paradise…a Woman? Bundo kanduang: Jamuan Bisu.

Sebelum tampil di Kaliurang, tarian ini juga tampil di Gedung Kesenian Jakarta pada Rabu dan Kamis (5-6/9) lalu.  Tarian ini memiliki jejak panjang dengan karya seni tari ibu Goi G Skati, Gusmiati Suid.  Boi menyuguhkan teater tari khusus itu dengan gerakan-gerakan tarian kontemporer yang berakar pada masyarakat matriarchal Minangkabau. Gerakan tujuh penari dalam dan luar negeri tersebut diperlihatkan bentuk gerakan seluruh tubuh yang begitu lentur dan mampu membangun daya pukau.  Dari Indonesia ada Davit, Mislam, Verawaty, dan Eka Octaviana.  Mereka menari bersama Masako Ono (Jepang), Amaranta Velarde (Spanyol), dan Leonor Carneira (Portugal).

Tarian yang diawali dengan gerakan saling perebutan kendali dan saling menguasai seperti hendak memperlihatkan sebelum kekuasaan perempuan pada tradisi Minang mencapai puncaknya. Boi dalam tarian itu seperti hendak mempertanyakan kembali tradisi superioritas perempuan tersebut.  Sebab, justru sekarang perebutan kekuasaan itu didominasi kaum lelaki.  Perebutan kekuasaan tersebut dipertontonkan dalam bentuk perebutan Suntiang, mahkota yang biasanya dikenakan pengantin perempuan Minang.  Sementara itu, jamuan bisu terlihat dari ketulusan pengabdian perempuan tanpa pamrih.

Karya yang dibuat di Indonesia ini rencananya juga akan dipertunjukkan di Singapura, Malaysia, dan Thailand.  Kegiatan ini dilakukan sebelum melakukan tur ke Belanda dan beberapa Negara Eropa lainnya.  Boi setidaknya telah memperlihatkan kekayaan tradisi-tradisi yang diolah sedemikian rupa sehingga menjadi karya kontemporer yang imajinatif. Selain karya Boi dan Gerard, malam itu juga ditampilkan karya Kazeo Takemoto dari Jepang dan Sin Cha Hong dari Korea Selatan.  Tarian Sin Cha Hong yang berjudul Woman Loving, gerakan seorang permpuoan yang merindukan kekasihnya untuk bercinta.  Namun kerinduan tersebut hanya bisa dia lepaskan dalam kesendirian.  Dirinya bahkan tidak sadar kalau sedang melakukan permainan cinta sendiri semalam suntuk dan akhirnya baru sadar apa yang dilakukannya hanyalah mengkhayal.

Selain para seniman Yogyakarta dan Solo, Festival Asia Tri tersebut juga dihadiri para seniman dari Jepang, Korea Selatan, dan beberapa negara lainnya.  Festival yang pertama kali diselenggarakan di Seoul, Korea Selatan, pada bulan Oktober 2006 ini diprakarsai Yang Hye Jin dari Korea, Soga Masaru dari Jepang, serta Bimo Wihohatmo dan Bambang Paningron dari Indonesia.  Festival tersebut secara berturut-turut dilakukan di Osaka, Jepang, dan Yogyakarta.

Bagi Yogyakarta sendiri, festival ini selain menunjukkan sebagai salah satu pusat kebudayaan Indonesia, juga sebagai upaya menumbuhkan rasa solidaritas di kalangan seniman-seniman Asia dan media silaturahmi budaya antarbangsa yang berdampak positif bagi pengembangan pariwisata, sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Selain itu, kolaborasi Boi-Gerard dalam teater tarinya sendiri bahkan menunjukkan kemampuan para seniman di Tahan Air menghasilkan karya-karya kelas dunia.

0 antwoorden

Plaats een Reactie

Meepraten?
Draag gerust bij!

Geef een reactie

Het e-mailadres wordt niet gepubliceerd. Vereiste velden zijn gemarkeerd met *