Radar Surabaya  |  22 Oktober 2009

Surabaya – Tak hanya kata-kata bisa dirangkai menjadi puisi.  Bagi Gerard Mosterd, gerakan juga dirangkai sama indahnya bak puisi.  Meminjam istilah Gerad, koreografer tamu dari Belanda untuk pertunjukan balet persembahan Elles School of Balet, puisi gerakan itu menjadi sebuah repertoar gres balet kontemporer berjudul Roejak Cingur.

KONTEMPORER: Bergerak bebas, ketujuh penari dalam repertoar balet kontemporer Roejak Cingur ini menjadi karya anyar Gerard Mosterd, kemarin.

Untuk menciptakan Roejak Cingur yang semalam (21/10) dipresentasikan di Imperial Ballroom Pakuwon Golf and Family Club (PGFC), Gerard memang melepaskan balet dari image klasiknya.  Bahkan, Gerard terasa ‘kelewat’ bebas hingga rasa balet seolah tiada.  Namun Roejak Cingur yang dibawakan tujuh balerina sernior Elles itu tetap menyuguhkan keindahan gerakan yang biasa ada pada pertunjukan balet.

Agak sulit dimengerti memang bagi awam yang tak biasa melihat suguhan balet kontemporer macam kreasi Gerard.  Gerakan yang diciptakan seolah tak menganut pakem balet yang pasti.  Emosi yang membungkus koreografi itu jug cukup membuat irama Roejak Cingur tak bisa diduga.  Sepanjang 15 menit repertoar yang diciptakan singkat selama empat hari itu, Roejak Cingur kadang tersaji penuh enerjik.  Lalu menghentak, mengalun atau menggabungkan semua emosi itu satu dalam panggung.

Ketujuh penari juga tak selalu harus bergerak sama.  Terkadang mereka terbagi dalam empat eksplorasi yang berbeda.  Yang dua seperti bermain-main nakal, dua yang lain membungkuk dengan berjalan pelan, yang dua lagi mengeksplorasi diri tak terkendali sementara yang satu berkutat sendirian dengan menggesek tubuhnya di atas lantai.  Musik pengiring juga tak kalah absurdnya sehingga makin kontemporerlah karya pemilik studio tari Kantor Pos di Amersfoort itu. (het)

0 antwoorden

Plaats een Reactie

Meepraten?
Draag gerust bij!

Geef een reactie

Het e-mailadres wordt niet gepubliceerd. Vereiste velden zijn gemarkeerd met *