Radar Surabaya  |  24 Oktober 2009

Surabaya – Pagelaran amal balet klasik Elles School of Ballet (ESOB) selama dua hari berakhir semalam.  Dari tiga repertoar yang disuguhkan selama dari sejak Kamis (22/10) itu, cerita Anastasia yang paling memukau penonton anak-anak yang kebanyakan mendominasi sekitar 500 kursi di gedung Imperial Ballroom Pakuwon Golf and Family Club (PGFC).  Maklum Anastasia mengisahkan tentang dongeng anak-anak yang menokohkan seorang putri dari kerajaan Rusia itu seperti biasa juga penuh liku-liku namun akhirnya berujung happy ending.

Menurut Aprilia Ekasari, principal ESOB, cerita di bagi dalam empat bagian. Cerita bermula dari kekacauan di kerajaan Raja Tsar Nicholas oleh Rasputin yang jahat.  “Meski sempat mengalami berbagai bagian cerita hidup yang sedih, antara lain karena keluarganya hancur dan dibunuh Rasputin, juga hilangnya Anastasia, namun cerita ditutup dengan kebahagiaan.  “Anastasia menemukan hidupnya kembali bahkan juga seorang pangeran seperti mimpi-mimpi anak-anak itu,” kata Lia, sapaan akrab Aprilia.

Karena cocok buat anak-anak itulah sejak sebelum pentas digelar atau sehari sebelumnya, ESOB bekerja sama dengan PGFC mementaskan awal untuk 600 anak yatim piatu dari 16 panti asuhan di Surabaya yang dikoordinir PGFC.  Selanjutnya pada Kamis (22/10) dan semalam, Anastasia dipentaskan untuk umum. Anastasia menjadi repertoar terpanjang dalam pertunjukan ini karena dimainkan selama satu jam.  Juga dimainkan oleh penari terbanyak atau sekitar 150 siswa ESOB dari usia 4 tahun hingga dewasa dalam setiap pentas atau 300 siswa dari dua studio ESOB.

Selain Anastasia, ada repertoar Roejak Cingur karya Gerard Mosterd, Reunion karya Linda Josephine Leowinanta, pendiri Elles dan koreografer yang sekarang tinggal di Kanada. Ketika repertoar ini digelar ESOB untuk mendulang donasi bagi kepentingan sosial.  “Keuntungan pertunjukan ini akan kami sumbangkan untuk korban gempa di Padang,” katanya.  Tentang dua hari pentas itu, Lia juga memuji respon penonton dengan kehadiran kontemporer Gerard.

Karya koreografer Belanda itu dimaksudkan Lia menjadi cara ESOB mengenalkan ballet kontemporer pada siswanya.  “Kami sengaja undang Gerard untuk membuat koreografi agar pertunjukan balet kita tak melulu balet klasik,” katanya. Meski karyanya ini digolongkan sebagai balet kontemporer, Gerard sejatinya tak mau menggolong-golongkan, sebab buatnya, dance is dance.  “Pada dasarnya tarian itu sama, jadi tak ada perbedaan klasik, kontemporer, modern atau tradisional,” kata koreografer berdarah Indo, beribu wanita jawa asal Kediri dan ayah asli Belanda.

Karena itu, cerita tepatnya dalam Roejak Cingur ini pun Gerard tak mau bilang.  Ia ingin penonton tak harus terkotak dengan pemaknaan Roejak Cingur yang menjadi karyanya bersama penari Indonesia yang kesekian.  Tapi ia tak menampik jika Roejak Cingur memang terinspirasi kekhasan gerakan klasik tarian Indonesia meski tak spesifik.  Bahkan nama Roejak Cingur juga seolah menggambarkan bercampur-campurnya bahan dan rasa dalam kudapan khas Surabaya itu.  “Seperti eksotisnya makan rujak cingur yang beragam itu,” kata Gerard yang menyukai rujak cingur itu sejak pertama kali mencicipinya empat tahun lalu. (het)

0 antwoorden

Plaats een Reactie

Meepraten?
Draag gerust bij!

Geef een reactie

Het e-mailadres wordt niet gepubliceerd. Vereiste velden zijn gemarkeerd met *